Belakangan ini, media sosial ramai dibanjiri karakter-karakter aneh seperti hiu yang memakai sepatu Nike, boneka balet berkepala cappuccino, hingga buaya berbentuk pesawat tempur. Tren absurd ini dikenal sebagai Anomali Brainrot, dan meskipun terlihat lucu serta kreatif, banyak ahli memperingatkan bahwa di balik kelucuannya, tren ini menyimpan bahaya yang tak disadari, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Fenomena Absurd yang Menghipnotis Generasi Muda
“Anomali Brainrot” muncul sebagai bentuk meme hiper-absurd yang sengaja dibuat untuk menghibur, mengejutkan, bahkan membuat penontonnya tertawa tanpa berpikir panjang. Karakter seperti Tralalero Tralala (hiu berkaki tiga dengan sepatu), Bombardiro Crocodilo (buaya pesawat pengebom), hingga Ballerina Cappuccina (penari balet berkepala kopi) menjadi bintang viral di TikTok dan Instagram.
Di permukaan, tren ini memang terlihat sebagai bentuk kreativitas liar yang memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan imajinasi tak terbatas. Namun, tak sedikit yang menyebut fenomena ini sebagai salah satu bentuk “brain rot” modern yakni kondisi mental yang menurun akibat konsumsi konten digital berlebihan dan tidak berkualitas.
Mengaburkan Batas Fantasi dan Realitas
Menurut para pakar perkembangan anak, khususnya yang mempelajari tahap praoperasional anak usia dini, konten hiper-absurd seperti ini berpotensi mengacaukan pemahaman anak tentang dunia nyata. Anak-anak pada usia ini belum mampu memisahkan fantasi dan realitas. Paparan visual yang sangat ganjil memicu pelepasan dopamin secara berlebihan, membuat otak terbiasa dengan stimulasi instan, yang berujung pada gangguan fokus, penurunan kemampuan memahami instruksi, hingga kesulitan berbahasa.
Selain itu, narasi acak dan tidak logis dalam video-video ini dapat menghambat kemampuan anak dalam membangun struktur berpikir yang koheren. Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan pola pikir yang lebih suka hal-hal absurd daripada yang rasional.
Brainrot Anomali / Pinterest Asiva & Catflixcentrall
Efek Domino pada Remaja Empati Merosot, Logika Terganggu
Jika pada anak-anak masalah utamanya adalah kebingungan realitas, pada remaja, efeknya lebih mengarah ke pembentukan pola pikir yang tidak logis. Tren “semakin aneh, semakin seru” bisa memicu ketertarikan berlebihan terhadap hal-hal yang tidak masuk akal, mengurangi kemampuan berpikir sistematis, dan menurunkan daya kritis.
Bukan hanya itu, empati juga bisa tergerus. Banyak konten brainrot melepas konteks emosional, sehingga remaja terbiasa melihat segala sesuatu sebagai bahan lelucon semata. Ketika menghadapi masalah nyata, mereka bisa kehilangan sensitivitas sosial yang penting dalam membangun hubungan sehat dengan orang lain.
Antara Kreativitas dan Bahaya
Meski begitu, fenomena anomali brainrot tidak sepenuhnya buruk. Jika digunakan dengan tepat, konten absurd bisa melatih kreativitas, melatih pengenalan pola (pattern recognition), dan meningkatkan fleksibilitas berpikir. Konten semacam ini bisa menjadi “taman bermain kognitif” di mana remaja belajar mendeteksi kejanggalan dan melatih daya imajinasi.
Kuncinya terletak pada pendampingan dan literasi digital. Orang tua dan guru perlu mengarahkan anak dan remaja untuk melihat konten ini sebagai hiburan semata, bukan realitas, serta mengajak mereka mendiskusikan konten yang ditonton.
Brainrot Anomali / Pinterest Mahtab Munna
Langkah Perlindungan
Agar tidak terjebak dalam fenomena brainrot, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, seperti:
-
Membangun literasi digital sejak dini. Ajak anak memahami bahwa konten aneh hanyalah khayalan.
-
Membatasi durasi screen time. Idealnya, tidak lebih dari 5–10 menit per hari untuk anak-anak.
-
Mengajak diskusi aktif. Misalnya, “Apa yang aneh dari video ini? Apakah ini mungkin terjadi di dunia nyata?”
-
Melatih anchor kognitif. Selalu hubungkan konten dengan fakta nyata agar anak tetap punya “pegangan logika.”
-
Melakukan digital detox. Sesekali ajak anak beraktivitas fisik atau sosial tanpa gawai.
Bijak Menyikapi Tren
Fenomena “Anomali Brainrot” memang mencerminkan kreativitas generasi muda di era digital, tetapi juga menjadi alarm penting bahwa tidak semua konten viral patut dikonsumsi tanpa kontrol. Lucu bukan berarti aman, dan menghibur tidak selalu mendidik.

