“Cita-citamu mau jadi apa kalau besar nanti?”
Pertanyaan klasik yang hampir semua anak pernah dengar ini mungkin dulu dijawab dengan penuh semangat, “Mau jadi dokter!” atau “Mau jadi pilot!” Tapi kalau pertanyaan yang sama diajukan ke anak zaman sekarang, jangan kaget kalau jawabannya malah, “Mau jadi YouTuber,” “Streamer game,” atau bahkan “Content creator.”
Fenomena ini bukan sekadar pergeseran minat, tapi mencerminkan perubahan sosial, teknologi, dan cara pandang generasi terhadap dunia dan masa depan. Lalu, sebenarnya apa yang membuat cita-cita anak zaman dulu dan sekarang begitu berbeda?
Cita-cita anak / Pinterest Hanna Lou, Ahmad and AjuDimple
Cita-Cita Anak Zaman Dulu Profesi Mulia yang Dekat dan Nyata
Anak-anak yang tumbuh di era 80-90an, bahkan awal 2000-an, hidup dalam lingkungan yang minim paparan digital. Tokoh-tokoh panutan mereka adalah orang-orang yang mereka lihat langsung: dokter di puskesmas, guru di sekolah, polisi yang menjaga jalanan, atau presiden yang muncul di upacara Hari Kemerdekaan.
Cita-cita seperti dokter, guru, polisi, insinyur, atau presiden dianggap sebagai lambang kesuksesan dan kontribusi terhadap masyarakat. Menjadi dokter artinya bisa menyembuhkan orang, menjadi guru bisa mencerdaskan bangsa. Profesi-profesi ini dipilih bukan karena gaji atau popularitas, tapi karena dianggap bermanfaat dan terhormat.
Cita-Cita Anak Zaman Sekarang Profesi Digital yang Viral dan Menguntungkan
Kemajuan teknologi telah melahirkan lanskap baru dalam dunia profesi. Anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam era internet, media sosial, dan budaya digital. Sejak usia dini, mereka sudah mengenal YouTube, Instagram, TikTok, dan platform lain yang menampilkan beragam profesi baru yang bahkan tidak ada satu dekade lalu.
Tak heran jika jawaban cita-cita sekarang terdengar seperti:
-
YouTuber
-
Selebgram
-
Streamer game
-
Beauty vlogger
-
Content creator
-
Influencer
-
Traveler profesional
Bagi mereka, profesi ini tidak hanya menarik karena terlihat menyenangkan, tetapi juga menjanjikan popularitas, fleksibilitas, dan bahkan penghasilan tinggi. "Bekerja sambil bersenang-senang" jadi ideal yang dicari generasi ini.
Cita-cita anak / Pinterest Dubeypriya, athu, dan vih
Apa yang Menyebabkan Pergeseran Ini?
-
Perubahan Akses Informasi
Jika anak-anak dulu hanya mengenal dunia dari buku dan orang sekitar, anak-anak sekarang tumbuh dalam banjir informasi. Internet memperluas cakrawala mereka, membuka peluang untuk bercita-cita jadi apa saja bahkan profesi yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. -
Perubahan Role Model
Tokoh panutan zaman dulu adalah orang nyata yang bisa dijumpai sehari-hari. Sekarang, anak-anak lebih banyak mengidolakan figur digital yang mereka lihat lewat layar: YouTuber, selebriti TikTok, atau gamer populer. -
Nilai Baru dalam Menilai Kesuksesan
Dulu, sukses berarti punya gelar, pekerjaan tetap, dan dihormati masyarakat. Sekarang, sukses juga bisa berarti punya banyak follower, bisa kerja dari mana saja, dan viral di internet.
Apa Ini Buruk?
Tidak juga. Pergeseran ini adalah hasil dari perkembangan zaman. Setiap generasi punya konteksnya sendiri. Profesi seperti YouTuber atau streamer tidak kalah menantang dibanding dokter atau guru. Mereka juga membutuhkan skill, kreativitas, kerja keras, dan konsistensi.
Yang perlu dilakukan orang tua dan pendidik adalah mengarahkan minat anak, bukan membatasi impian mereka. Apakah anak ingin jadi pilot atau content creator, yang penting adalah mereka tahu bagaimana cara mencapainya, dan nilai-nilai apa yang harus mereka pegang selama prosesnya.
Cita-cita anak memang berubah seiring zaman. Namun, esensi dari cita-cita tetaplah sama: menjadi seseorang yang bermakna, berkontribusi, dan bahagia dengan apa yang dikerjakan. Jadi, alih-alih bertanya, “Kenapa mau jadi YouTuber?” mungkin kita bisa mulai bertanya, “Apa yang ingin kamu bagikan lewat kontenmu nanti?”. Zamannya berubah, mimpinya pun ikut berkembang. Dan itu bukan hal yang buruk, selama mereka tetap berjalan dengan tujuan yang jelas.

