Cat Scratch Disease (CSD) atau penyakit cakaran kucing adalah infeksi bakteri yang dapat terjadi ketika seseorang terkena cakaran, gigitan, atau jilatan dari kucing yang terinfeksi. Penyakit ini termasuk dalam kategori zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Meskipun demikian, CSD tidak dapat menular dari manusia ke manusia.
Bartonella henselae / Pinterest Jill Carnahan MD
Penyebab dan Cara Penularan
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae, yang hidup di dalam tubuh kucing tanpa menyebabkan gejala pada hewan tersebut. Bakteri ini dapat berpindah ke manusia melalui cakaran atau gigitan kucing yang terinfeksi. Selain itu, kucing yang menjilati luka terbuka pada kulit manusia juga dapat menjadi penyebab infeksi. Dalam beberapa kasus, kutu kucing yang membawa Bartonella henselae juga dapat menjadi media penularan.
Menurut penelitian, anak kucing lebih sering menjadi sumber penularan dibandingkan kucing dewasa. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan anak kucing untuk lebih aktif bermain dan sering menggunakan cakarnya. Oleh karena itu, individu yang sering berinteraksi dengan anak kucing memiliki risiko lebih tinggi terkena CSD.
Faktor Risiko
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena CSD antara lain:
-
Memelihara kucing, terutama anak kucing yang lebih aktif mencakar.
-
Tidak segera membersihkan luka akibat cakaran atau gigitan kucing.
-
Membiarkan kucing menjilati luka terbuka di kulit.
-
Tidak melakukan pengendalian terhadap kutu kucing.
-
Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, kanker, atau pasien transplantasi organ.
Gejala Cat Scratch Disease
Gejala CSD biasanya muncul dalam waktu 3–10 hari setelah seseorang tergigit atau tercakar oleh kucing yang terinfeksi. Gejala awal yang umum meliputi:
-
Demam ringan.
-
Luka kecil di area gigitan atau cakaran.
-
Pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar area luka.
-
Kelelahan dan badan terasa pegal.
-
Sakit kepala.
Pada beberapa kasus, gejala yang lebih parah dapat muncul, seperti:
-
Kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan.
-
Demam yang berkepanjangan.
-
Ruam kemerahan pada kulit.
-
Nyeri sendi dan otot.
-
Infeksi yang menyebar ke organ tubuh lain, seperti hati atau limpa.
Jika gejala terus memburuk atau terjadi komplikasi, seperti kesulitan bernapas, demam tinggi, atau nyeri hebat di beberapa bagian tubuh, segera periksakan diri ke dokter.
Cat Scratch / Pinterest Emiliano Garcia
Diagnosis dan Pengobatan
Dokter biasanya akan mendiagnosis CSD berdasarkan gejala klinis serta riwayat kontak pasien dengan kucing. Pemeriksaan tambahan, seperti tes darah atau polymerase chain reaction (PCR), dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan Bartonella henselae dalam tubuh.
Pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, CSD umumnya dapat sembuh sendiri dalam 2–4 minggu tanpa perlu pengobatan khusus. Namun, dokter dapat meresepkan obat pereda nyeri seperti ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan.
Pada pasien dengan kondisi medis tertentu yang memiliki sistem imun lemah, antibiotik seperti azitromisin mungkin diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi ke organ tubuh lain. Jika terjadi pembengkakan kelenjar getah bening yang parah dan nyeri, dokter dapat melakukan prosedur drainase untuk mengeluarkan cairan dari area yang membengkak.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
Meskipun jarang, CSD dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
-
Infeksi pada hati dan limpa (hepatosplenomegali).
-
Radang pada otak (ensefalopati).
-
Infeksi pada jantung (endokarditis).
-
Gangguan pada mata akibat inflamasi saraf optik.
Pencegahan Cat Scratch Disease
Pencegahan CSD dapat dilakukan dengan beberapa langkah sederhana, seperti:
-
Menghindari cakaran atau gigitan kucing saat bermain.
-
Mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh kucing.
-
Tidak membiarkan kucing menjilati luka terbuka pada kulit.
-
Memotong kuku kucing secara rutin.
-
Menggunakan produk antiparasit untuk mencegah infestasi kutu pada kucing.
-
Menghindari interaksi dengan kucing liar yang berisiko lebih tinggi membawa bakteri Bartonella henselae.
Cat Scratch Disease adalah infeksi bakteri yang dapat terjadi akibat cakaran, gigitan, atau jilatan kucing yang terinfeksi. Penyakit ini umumnya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya, tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius pada individu dengan sistem imun yang lemah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan diri dan merawat kucing dengan baik merupakan langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Jika mengalami gejala yang mencurigakan setelah berinteraksi dengan kucing, segera konsultasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

