
Catcalling Bukan Pujian Melainkan Luka Sunyi dari Jalanan yang Harus Dihentikan
Dewi Pratiwi
Penulis Beside Us
Bayangkan sedang berjalan santai di trotoar saat matahari sore menguning, namun suasana nyaman itu mendadak dirusak oleh siulan, komentar sensual, atau teriakan asing yang memanggilmu dengan julukan seperti “cantik” atau “seksi”. Situasi semacam ini bukan sekadar “pujian lewat jalanan” itulah catcalling, bentuk pelecehan yang masih kerap dianggap sepele namun menyisakan dampak panjang pada batin korban.
Apa Itu Catcalling?
Catcalling adalah tindakan pelecehan seksual secara verbal maupun non-verbal yang umumnya terjadi di ruang publik. Tindakan ini bisa berupa siulan, komentar bernada seksual, gestur menggoda, hingga mengikuti korban. Meski kerap dibungkus dengan dalih basa-basi atau “saling sapa ramah”, faktanya catcalling merupakan upaya mengobjektifikasi tubuh seseorang, menghilangkan rasa aman, dan menempatkan korban dalam posisi tidak berdaya.
Tak sedikit pelaku berdalih bahwa mereka hanya ingin bercanda atau mengagumi, tapi dampaknya sangat jauh dari menyenangkan. Bahkan, banyak korban terutama perempuan muda mengaku merasa terintimidasi, takut, hingga trauma. Catcalling menciptakan ketidakseimbangan kuasa, di mana pelaku merasa punya hak atas tubuh orang lain hanya karena melihat mereka di tempat umum.
CatCalling / Pinterest BuzzFeed
Bentuk-Bentuk Catcalling yang Kerap Terjadi
Catcalling dapat terbagi dalam dua jenis utama:
-
Verbal, seperti siulan, komentar tentang tubuh, atau ucapan sensual seperti “eh senyumlah dikit dong”.
-
Non-verbal, seperti menggigit bibir, mengedipkan mata, melambaikan tangan secara sugestif, hingga menghalangi jalan korban.
Contoh konkret lainnya termasuk ketika seseorang meneriaki korban dari mobil yang melambat, memanggil dengan sapaan bernada seksual, atau bahkan menatap tubuh korban dari ujung kepala hingga kaki dengan penuh nafsu. Tak jarang, setelah komentar dilemparkan, pelaku tetap mengikuti korban, memperpanjang ketakutan yang dirasakan.
Mengapa Catcalling Masih Terjadi?
Salah satu alasan catcalling terus hidup adalah karena banyak masyarakat masih memakluminya. “Namanya juga cowok iseng,” atau “Itu kan pujian,” adalah kalimat yang seringkali dijadikan pembenaran. Dalam beberapa kasus, pelaku malah menyalahkan korban dengan dalih cara berpakaian atau gestur tubuh tertentu.
Namun lebih dalam lagi, catcalling adalah cerminan dari budaya patriarki yang menempatkan perempuan sebagai objek pandangan. Bahkan sebagian pelaku secara sadar menginginkan respons negatif seperti rasa takut atau keterkejutan dari korban, karena itu memberi mereka rasa kuasa. Dalam kasus ekstrem, catcalling bisa menjadi pintu masuk ke kekerasan seksual fisik.
CatCalling / Pinterest DEH
Dampaknya Lebih Dari Sekadar Tidak Nyaman
Yang sering dilupakan, catcalling bukan hanya gangguan sesaat. Berbagai penelitian menyebut bahwa pelecehan verbal di ruang publik dapat meninggalkan trauma psikologis. Korban bisa mengalami:
-
Rasa cemas dan tidak aman di tempat umum
-
Kehilangan rasa percaya diri
-
Gangguan tidur dan suasana hati
-
Bahkan gejala mirip PTSD jika tindakan catcalling terjadi berulang
Dampaknya bukan cuma psikologis, tapi juga sosial. Banyak korban memilih menghindari rute tertentu, mengubah cara berpakaian, atau menutup diri dari interaksi publik. Ini menjadi pembatas yang tidak kasat mata, namun sangat nyata.
Bagaimana Kita Bisa Menyikapi?
Menyikapi catcalling memang tidak mudah, karena seringkali terjadi secara mendadak dan di tempat terbuka. Namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan korban maupun saksi:
-
Tanggapi dengan tegas: Tidak perlu bersikap lembut jika kamu dilecehkan. Kalimat seperti “Itu tidak sopan!” bisa membuat pelaku sadar bahwa tindakannya tidak diterima.
-
Cari tempat aman: Masuk ke toko terdekat atau gabung dengan kerumunan bisa membantu meredakan ancaman.
-
Dokumentasikan: Jika memungkinkan, rekam kejadian untuk dijadikan bukti, terutama bila ingin melapor.
-
Ceritakan ke orang terpercaya: Mendapatkan dukungan emosional dari teman, keluarga, atau psikolog sangat membantu untuk mengurangi dampak psikologis.
-
Laporkan ke pihak berwenang jika pelecehan berulang atau mengarah pada ancaman fisik.
Peran Masyarakat Jangan Diam
Catcalling tidak akan berhenti jika kita semua memilih untuk bungkam. Edukasi dan kampanye anti-pelecehan harus terus digalakkan, terutama di lingkungan kampus dan sekolah yang merupakan tempat berkembangnya karakter generasi muda. Laki-laki harus diajak untuk memahami batasan dan rasa hormat terhadap tubuh orang lain, dan perempuan harus diberi ruang aman untuk bersuara.
Mahasiswa, pelajar, pekerja, hingga tokoh masyarakat memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Tak hanya untuk menyuarakan penolakan terhadap catcalling, tetapi juga membangun budaya saling menghargai dalam berinteraksi.
Catcalling bukan pujian. Ia adalah cermin dari relasi kuasa yang timpang, sebuah bentuk pelecehan yang berakar dari budaya yang masih menganggap tubuh orang lain bisa dijadikan objek hiburan. Tidak ada alasan, tidak ada pembenaran. Sudah saatnya kita bersuara, menolak, dan menghentikan catcalling, agar jalanan dan ruang publik menjadi tempat yang benar-benar aman bukan ladang luka sunyi yang terus diabaikan.

Dewi Pratiwi
Seorang mahasiswa dengan peminatan di bidang Informatika, memiliki kegemaran dalam penelitian dan riset. Inovasi maupun penyelesaian masalah yang ada direpresentasikan dalam bentuk karya tulisan, desain grafis, maupun program.




