Kambing myotonic, atau yang juga disebut fainting goat, merupakan kambing yang yaaa selayaknya kambing biasa aja bentuknya, akan tetapi ada hal spesial yang menjadi kondisi khusus pada kambing myotonic ini. Kambing ini disebut myotonic karena ia memiliki kelainan gen yang disebut Congenita myotonia. Congenita myotonia merupakan kelainan genetis dimana terdapat gangguan yang memengaruhi otot yang digunakan untuk bergerak. Hal ini menyebabkan si kambing akan pingsan selama kurang lebih lima belas detik setiap kali ia kaget. Jika ia dikejutkan oleh suara keras atau pergerakan yang tiba-tiba, mereka akan mencoba untuk melarikan diri dari gangguan tersebut dan terkadang memberikan respon seperti tiba-tiba pingsan. Pada saat ia kaget, otot-otot gerak pada kambing ini menjadi tegang dan kaku sehingga menimbulkan kelumpuhan sementara.
Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Bovidae
Genus: Capra
Spesies: Capra aegagrus
Subspesies: Capra aegagrus hircus
Kambing myotonic pertama kali muncul di Tennessee, Amerika Serikat, pada sekitar tahun 1880-an. Seorang pekerja pertanian bernama John Tinsley memelihara 4 ekor kambing myotonic. Tinsley menjual kambingnya itu kepada atasannya yang bernama Dr. H. H. Mayberry sebelum ia pindah dari tempatnya bekerja selama beberapa tahun itu. Setidaknya terdapat satu ekor dari keempat kambing itu memiliki sifat genetik yang berbeda. Sejauh ini masih belum ada yang tahu dari mana asal kambing milik John Tinsley tersebut atau dari mana dia membawa kambingnya. Menurut postingan pada salah satu akun Instagram dengan username @faktadanmitos bahwa rumornya John Tinsley berasal dari Nova Scotia, Kanada, tapi tidak ada yang yakin dengan rumor tersebut. Asal mula kambing jenis ini masih menjadi misteri karena kondisinya yang tidak ada duanya di belahan dunia manapun. Gara-gara keunikannya, kambing ini memiliki banyak julukan, misalnya kambing kaki beku, kambing kaki kayu, kambing gugup, bahkan ada juga yang menyebutnya kambing pingsan.
Pada kambing myotonic, terjadi ketidakseimbangan antara ion natrium bermuatan positif dan ion klorida bermuatan negatif, sehingga otot tidak memiliki cukup klorida tapi memiliki cukup natrium untuk bersantai dan rileks. Diperlukan waktu 5 hingga 20 detik untuk menyeimbangkan kedua ion tadi dan merilekskan otot-otot yang tegang. Tingkat keparahan respon dari masing-masing kambing bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh usia, ketersediaan air, dan suplemen taurine dalam tubuh kambing yang bersangkutan. Kambing yang lebih muda lebih sering mengalami kaku dan jatuh jika dibandingkan dengan kambing yang lebih tua. Sebagian disebabkan karena kambing dewasa telah beradaptasi dengan kondisi tersebut dan tidak mudah terkejut sedangkan kambing muda masih belum. Berdasarkan pemahaman tentang congenita myotonia yang terjadi pada manusia, diketahui bahwa kondisi tersebut tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak memiliki pengaruh pada tonus otot, kesadaran, maupun harapan hidup individu tersebut.
Secara fisik, kambing myotonic ini memiliki tinggi badan 43,18 hingga 63,5 centimeter dengan berat badan 27 kilogram hingga menyentuh angka 78 kilogram. Berat banget ya sobat beside us hehe ehh kok jadi shaming gini ke kambing maap maap. Kambing pingsan termasuk ke dalam golongan hewan herbivora yang memakan tanaman merambat, semak, pohon, dan beberapa tanaman yang berdaun lebar. Akan tetapi kambing mengecap terlebih dahulu ‘calon makanan’ nya untuk memastikan apakah tanaman tersebut aman untuk dimakan. Mereka tidak benar-benar memakan semuanya, misalnya tanaman nightshade dan pakan berjamur yang sangat berbahaya jika dimakan karena dapat mengakibatkan kematian pada kambing pingsan.
Pada akhirnya kambing myotonik menjadi sumber daging untuk warga lokal. Kambing jenis itu berotot, namun jinak dan lebih mudah dirawat. Sobat beside us berminat untuk makan daging kambing ini nggak? Atau takut ketularan? Sobat beside us tenang aja karena kondisi yang terjadi kambing myotonic nggak menular kok. Semoga bermanfaat <3

