Bagikan

Satu Kalimat dari Masa Depan yang Mengubah Hidup “Hi, aku Sore. Istri kamu dari masa depan”

Author : Dewi Pratiwi . 25 July 2025

Satu Kalimat dari Masa Depan yang Mengubah Hidup “Hi, aku Sore. Istri kamu dari masa depan”

Author : Dewi Pratiwi . 25 July 2025

Di antara deretan film Indonesia yang tayang pada 2025, Sore Istri dari Masa Depan mencuri perhatian dengan premis tak biasa kisah cinta lintas waktu yang diracik dalam balutan drama, romansa, dan fantasi. Disutradarai oleh Yandy Laurens dan dibintangi oleh Dion Wiyoko dan Sheila Dara, film ini bukan hanya menawarkan nostalgia dari versi web series-nya, tetapi juga pengalaman sinematik baru yang lebih matang, emosional, dan menyentuh.

Cinta, Waktu, dan Kehidupan 

Apa jadinya jika seseorang datang dari masa depan dan mengaku sebagai pasangan hidupmu? Itulah pertanyaan yang mengawali konflik utama dalam Sore Istri dari Masa Depan. Sore (Sheila Dara) hadir di kehidupan Jonathan (Dion Wiyoko), seorang fotografer yang menjalani hidup semaunya sendiri, tanpa memperhatikan kesehatannya. Namun, Sore bukan perempuan biasa ia mengaku sebagai istri Jonathan dari masa depan dan datang dengan satu misi penting mengubah kebiasaan hidup Jonathan sebelum semuanya terlambat.

Konsep cerita ini membuka ruang besar bagi eksplorasi tema tentang waktu, kesempatan kedua, dan pengorbanan. Penonton tidak hanya disuguhkan kisah cinta biasa, tetapi juga refleksi tentang pilihan hidup dan takdir.


Film Sore / Instagram @sheiladaisha

1. Emosi yang Melekat dan Kutipan Tak Terlupakan

Tak butuh waktu lama bagi film ini menjadi perbincangan hangat. Salah satu kutipan yang terus bergema di media sosial adalah, “Hi, aku Sore. Istri kamu dari masa depan.” Sederhana tapi menghunjam. Ungkapan ini mencerminkan kehangatan dan kepedihan sekaligus, mengundang rasa penasaran akan kelanjutan kisah mereka.

Keberhasilan menyampaikan emosi inilah yang membuat banyak penonton menonton film ini lebih dari sekali. Sore bukan hanya tentang alur cerita, tetapi juga bagaimana setiap adegannya meninggalkan jejak di hati.

2. Visual Sinematik dan Lokasi Syuting Internasional

Tak sekadar mengandalkan kisah, film ini juga memanjakan mata lewat visual yang apik. Pengambilan gambar dilakukan di tiga negara berbeda Kroasia (Zagreb dan Grožnjan), Finlandia untuk adegan bersalju, dan Jakarta sebagai latar domestik. Pemilihan lokasi ini bukan hanya estetika, tetapi menjadi metafora perjalanan lintas ruang dan waktu yang dijalani Sore.

Penggunaan bahasa Kroasia dalam beberapa adegan pun menambah lapisan realisme dan kesungguhan produksi. Sheila Dara bahkan menjalani pelatihan khusus selama dua bulan untuk berakting dalam bahasa asing tersebut bukti totalitas yang patut diapresiasi.

3. Dari Web Series ke Layar Lebar

Sore versi film bukan sekadar adaptasi. Ia adalah reimajinasi. Jika dalam web series Sore diperankan oleh Tika Bravani, versi layar lebarnya menghadirkan Sheila Dara yang memberi nuansa berbeda pada karakter Sore lebih lembut, lebih kontemplatif. Unsur fantasi juga diperkuat, termasuk dengan pembagian narasi menjadi tiga babak pengenalan, perjuangan, dan “Waktu” sebagai klimaks emosional.

Sutradara Yandy Laurens mengaku ide cerita ini terinspirasi dari kehidupan pribadinya, membuat film terasa otentik dan dekat dengan kehidupan nyata.


Film Sore / Instagram @sheiladaisha

4. Antusiasme Penonton yang Meningkat Setiap Hari

Sejak tayang perdana di bioskop pada 10 Juli 2025, Sore mencetak rekor demi rekor. Hingga hari ke-14 penayangan, film ini telah meraih lebih dari 1,7 juta penonton dan terus bertambah. Tak hanya bersaing dengan film populer lainnya, Sore bahkan mengancam posisi beberapa film box office dalam daftar film Indonesia terlaris tahun ini.

Bukan hal yang mengejutkan, mengingat film ini memiliki segalanya akting yang solid, cerita yang menggugah, sinematografi memikat, dan musik yang mengalun lembut mengiringi tiap adegan emosional.

Sebuah Film yang Mengajak Kita Menyentuh Waktu

Sore Istri dari Masa Depan bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman emosional yang dalam. Ia berbicara tentang kemungkinan kedua, tentang harapan di balik kesalahan, dan tentang cinta yang sanggup melintasi batas ruang dan waktu. Jika cinta bisa datang dari masa depan, mungkinkah kita juga bisa belajar menghargai yang kita miliki hari ini? Film ini layak disebut sebagai salah satu mahakarya perfilman Indonesia tahun ini. Dan mungkin, saat selesai menonton, kamu pun akan berkata, “Sore, terima kasih sudah datang.”

Share this article :  
Katen Doe

Dewi Pratiwi

Seorang mahasiswa dengan peminatan di bidang Informatika, memiliki kegemaran dalam penelitian dan riset. Inovasi maupun penyelesaian masalah yang ada direpresentasikan dalam bentuk karya tulisan, desain grafis, maupun program.

Ada apa disamping kita?