Bagikan

Tes Koran Bikin Pusing? Kenali Bedanya Pauli dan Kraepelin Sebelum Melamar Kerja

Author : Dewi Pratiwi . 29 July 2025

Tes Koran Bikin Pusing? Kenali Bedanya Pauli dan Kraepelin Sebelum Melamar Kerja

Author : Dewi Pratiwi . 29 July 2025

Buat kamu yang sedang berburu pekerjaan, pasti tahu betapa mendebarkannya sesi psikotes. Nah, salah satu jenis yang bikin jari pegal dan otak panas adalah tes koran bukan karena harus baca berita, tapi karena harus adu cepat dan fokus menjumlah angka! Tes ini terdiri dari dua varian: Pauli dan Kraepelin. Meski kelihatannya mirip, jangan salah! Ada banyak perbedaan yang penting untuk diketahui, terutama agar kamu nggak salah langkah saat tes berlangsung.

Apa Itu Tes Koran?

Disebut "tes koran" bukan karena kamu akan membaca berita pagi, melainkan karena lembar soal yang digunakan ukurannya sebesar kertas koran. Di dalamnya, berjejer kolom angka yang harus dijumlahkan secara berurutan. Fokus utama tes ini bukan matematika, tapi daya tahan mental, konsistensi, emosi, dan kecepatan kerja. Ini bukan soal pintar berhitung, tapi seberapa stabil kamu menghadapi tekanan.


Tes / resources.olasjobs.org

Tujuan Tes Bukan Sekadar Angka

Tes Pauli dan Kraepelin digunakan perusahaan untuk menyaring kandidat yang tidak hanya cepat, tetapi juga tahan banting secara psikologis. Melalui grafik hasil kerja kamu nanti, HRD bisa tahu:

  • Seberapa stabil emosimu selama menyelesaikan tugas monoton.

  • Apakah kamu konsisten atau mudah menyerah.

  • Apakah kamu cermat atau asal-asalan.

  • Sejauh mana kamu mampu bekerja di bawah tekanan waktu.

Tes Pauli vs Tes Kraepelin Bedanya di Mana?

Walaupun sama-sama soal menjumlah angka satu digit, kedua tes ini punya gaya sendiri-sendiri:

Aspek Tes Pauli Tes Kraepelin
Arah Penjumlahan Atas ke bawah Bawah ke atas
Ukuran Kertas A3 (besar, seperti koran) A4 atau F4 (lebih ringkas)
Instruksi Diberi aba-aba “garis” tiap beberapa menit untuk menandai progres Diberi aba-aba “pindah” untuk bergeser ke kolom selanjutnya
Durasi Sekitar 60 menit 10–30 menit
Jumlah Lembar Bisa lebih dari satu Umumnya hanya satu lembar
Pengembangan Oleh Richard Pauli (1951) untuk menilai kepribadian Oleh Emil Kraepelin (abad ke-19) awalnya untuk diagnosis neurologis

Jadi, jangan sampai kamu salah menjumlah dari arah yang keliru, atau panik saat mendengar instruksi “pindah” padahal kamu sedang asyik menghitung ke bawah!

Tips Jitu Biar Nggak Tumbang di Tengah Jalan

  1. Latihan penjumlahan cepat. Bukan buat pamer jago hitung, tapi buat melatih ritme otak dan tangan.

  2. Jaga konsistensi. Jangan ngebut di awal lalu kelelahan di tengah jalan. Skor kamu justru dinilai dari kestabilan, bukan ledakan sesaat.

  3. Tulis angka dengan jelas. Penilai juga manusia, angka yang acak-acakan bisa bikin nilaimu melorot.

  4. Fokus penuh. Jangan kepancing panik. Kalau salah, lanjut aja jangan balik, nanti malah tambah kacau.

  5. Ikuti instruksi dengan cermat. Satu langkah salah bisa bikin grafik hasilmu jadi zigzag dan dianggap emosional.

Tes / Shp Adeliaaseller

Tes Ini Dinilai dari Apa Aja?

Skor akhir bukan cuma berdasarkan jumlah angka yang kamu kerjakan. HRD juga melihat:

  • Kestabilan grafik: Naik-turun terlalu drastis? Bisa jadi kamu emosional.

  • Jumlah kesalahan: Bikin kesalahan kecil? Masih bisa dimaafkan. Tapi kalau berulang? Bahaya.

  • Kerapian lembar jawaban: Kotor dan coretan di mana-mana? Bisa jadi kamu dianggap tidak teliti.

  • Respon terhadap aba-aba: Disiplin juga dinilai. Telat pindah? Poin berkurang.

Tes Pauli dan Kraepelin mungkin terlihat membosankan dan melelahkan. Tapi, jangan salah, keduanya bisa jadi penentu masa depanmu di dunia kerja. Bukan soal matematika, ini soal bagaimana kamu menunjukkan kepribadian, daya tahan, dan sikap kerja di bawah tekanan. Jadi, kalau kamu bertemu kertas penuh angka di sesi psikotes nanti anggap saja itu “medan tempur” yang harus kamu taklukkan.

Share this article :  
Katen Doe

Dewi Pratiwi

Seorang mahasiswa dengan peminatan di bidang Informatika, memiliki kegemaran dalam penelitian dan riset. Inovasi maupun penyelesaian masalah yang ada direpresentasikan dalam bentuk karya tulisan, desain grafis, maupun program.

Ada apa disamping kita?