Bagikan

Tradisi Toraja Ma'palao, Tradisi Mengarak Jenazah Sambil Menggoyangkannya

Author : Laisanti Ayu Febriani . 22 February 2023

Tradisi Toraja Ma'palao, Tradisi Mengarak Jenazah Sambil Menggoyangkannya

Author : Laisanti Ayu Febriani . 22 February 2023

Pada tanggal 21 Februari 2023, akun Instagram @makassar_info mengunggah sebuah video yang memperlihatkan puluhan pemuda berbaju hitam tengah mengangkat sesuatu, menurut keterangan yang ada di caption postingan tersebut bahwa yang tengah diangkat para pemuda tersebut merupakan jenazah. Mereka mengangkat dan menggoyangkan jenazah tersebut dengan begitu riang. Tampak juga beberapa orang menyiramkan air ke arah para pemuda tersebut. Ternyata hal tersebut merupakan salah satu adat istiadat di Toraja, Sulawesi Selatan, yang disebut Ma’palao.

Ma’palao merupakan salah satu rangkaian dari Rambu Solo. Rambu Solo ini adalah pesta kematian yang dilakukan ketika seseorang dari warga Toraja yang meninggal dunia dan salah satu ritualnya adalah Ma’palao. Ma’palao memiliki makna mengeluarkan, yang diartikan sebagai proses mengeluarkan jenazah dari kediamannya untuk dibawa dan diarak keliling desa. Pengarakan jenazah keliling desa ini bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat kalau ada kabar duka atau kedukaan. Setelah diarak keliling desa, jenazah akan dibawa menuju rakkean atau tempat peristirahatan terakhir. Dengan diaraknya jenazah keliling desa, masyarakat akan tahu bahwa ada seseorang yang meninggal sehingga besoknya mereka akan berbondong-bondong pergi ke kediaman keluarga yang berduka untuk mengucapkan bela sungkawanya.

Tujuan dari Ma’palao itu sendiri adalah untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan. Tapi nggak cuma itu ya sobat beside us, Ma’palao juga bertujuan sebagai penghormatan kepada leluhur Toraja yang lebih dulu melakukan tradisi ini, sehingga tradisi ini betul-betul dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.

Ritual Ma'palao di Toraja / via blogspot.com
 
Tahapan ritual Ma’palao:
 
  1. Ritual Ma’palao dilaksanakan pada pukul 12.00 WITA atau ketika matahari mulai tergelincir.
  2. Sebelum melakukan ritual Ma’palao, warga yang terlibat akan menyembelih kerbau terlebih dahulu. Penyembelihan hewan ini sebagai persembahan kepada Yang Kuasa
  3. Membunyikan gong. Gong ini sebagai tanda bahwa ritual Ma’palao bisa dimulai. Ratusan warga bersiap dengan memakai baju serba hitam
  4. Peti jenazah diangkat oleh banyak orang sambil menggoyangnya. Hal ini sebagai wujud luapan emosional keluarga yang ditinggalkan, juga sebagai tanda kasih sayang dari keluarga kepada mendiang yang telah berpulang
  5. Jenazah diarak keliling desa dengan diikuti para perempuan dari keluarga jenazah yang membentangkan kain merah sebagai tanda berkabung atau duka cita
  6. Jenazah dibawa ke rakkean sebagai tempat peristirahatan terakhir

Ma’palao masuk pada rangkaian upacara adat Rambu Solo yang merupakan ritual penting dengan waktu yang nggak sebentar dan biaya yang cukup besar. Makanya nggak jarang upacara ini dilaksanakan beberapa bulan bahkan bisa bertahun-tahun setelah seseorang meninggal. Biaya upacara adat Rambu Solo yang tinggi disebabkan oleh penyembelihan kerbau, babi, dan lamanya prosesi upacara.

Upacara ini memang dibuat meriah, serta ada babi dan kerbau untuk dibagikan ke penduduk sekitar. Biaya yang digunakan untuk melaksanakan upacara ini berasal dari sisa hasil usaha dari mendiang, hal ini nggak asal-asalan loh ya, karena penggunaan sisa hasil usaha a.k.a warisan ini bertujuan untuk membiasakan anak-anak dari mendiang agar tidak bergantung pada warisan.

Ritual Ma'palao di Toraja / via indonesia-tourism.com
 
Kita sebagai warga Negara Indonesia sudah semestinya bangga pada keragaman budaya, keragaman bahasa, suku, ras, agama, dan adat istiadat yang ada di negara kita tercinta ini. Salah satu cara menunjukkan kebanggaan kita adalah dengan menghormati serta ikut melestarikan, tentunya sesuai dengan agama masing-masing yaa, karena dari masing-masing agama memiliki ketentuan yang tidak boleh dilanggar oleh umatnya.
Share this article :  
Katen Doe

Laisanti Ayu Febriani

Perempuan random yang menyukai puisi Eyang Sapardi Djoko Damono. Terkait hobi atau juara, mungkin sejauh ini hanya hobi mengganggumu dan juara di hatimu :)

Ada apa disamping kita?