Ada Apa dengan Film Dear David 2023?
Film Dear David 2023 / via mamikos.com
Hiburan17 Februari 2023

Ada Apa dengan Film Dear David 2023?

L

Laisanti Ayu Febriani

Penulis Beside Us

Pada tanggal 9 Februari 2023 lalu, Palari Films memproduksi film yang berjudul Dear David. Film yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi ini sempat menjadi kontroversi di kalangan masyarakat karena alur ceritanya yang menggunakan hal-hal ‘tabu’ sebagai bumbu-bumbu permasalahan di dalamnya. Film ini menceritakan tentang seorang siswi SMA Bernama Laras yang merupakan siswi berprestasi di sekolahnya bahkan ia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Akan tetapi, selayaknya remaja yang sedang mencari jati diri, Laras memiliki hobi menulis cerita, akan tetapi tulisannya ini terlalu vulgar dan objek dari fantasinya ini adalah teman sekolahnya sendiri yang bernama David. Selain itu, dalam film ini juga menampilkan sahabat Laras yang memiliki disorientasi seksual, yang bernama Dilla. Terlepas dari hal-hal ‘tabu’ tersebut, film ini bukanlah film recehan yang hanya menampilkan hal-hal yang terlalu dewasa untuk anak SMA, tapi banyak pesan yang terkandung di dalamnya. Berikut hal-hal positif yang bisa kita ambil, pahami, dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Permasalahan yang diangkat merupakan isu-isu yang sering terjadi di masyarakat khususnya kalangan remaja

Winnie Benjamin dan Daud Sumolang merangkai skenario ini dengan sederhana, sesimpel itu karena mengangkat isu-isu masyarakat tapi sering terlupakan oleh orang-orang bahkan dikatakan ‘tabu’ untuk dikonsumsi khalayak. Isu-isu masyarakat ini dikaitkan dengan kehidupan remaja sebagai pintu gerbang menuju kedewasaan dan sebagai ‘rumah latihan’ sebelum seseorang terjun ke masyarakat. Isu-isu tersebut antara lain kenakalan remaja, pelecehan, pergaulan bebas, LGBT, persahabatan, keluarga, kehidupan sosial masyarakat, kebijakan, serta kejujuran. Isu-isu ini juga dibumbui dengan religiusitas yang diperlihatkan pada banyaknya adegan serta dialog pemeran yang mengandung unsur keagamaan. Tidak lupa juga dukungan keluarga yang sering kali terabaikan oleh masyarakat awam. Winnie Benjamin dan Daud Sumolang menyusun skenario ini sedemikian rupa sehingga terdapat hubungan sebab akibat di dalamnya.

2. Pentingnya untuk tidak mengumbar aib orang lain

Jelas sudah bahwa kasus seperti ini sering terjadi di lingkungan masyarakat, entah aib atau bahkan kebahagiaan tetangganya juga masih dipergunjingkan. Boleh kok menceritakan aib seseorang, dengan syarat untuk bantuan dan berkaitan dengan kesaksian. Dalam film ini menceritakan seorang Laras yang menyimpan rahasia tentang kesukaannya menulis fan fiction vulgar yang mengobjekkan David. Ia menyimpannya untuknya sendiri akan tetapi disebarluaskan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Hal ini pasti membuat kita berpikir bahwa Laras sudah salah karena sudah membuat cerita negatif seperti itu, tapi yang perlu juga sobat beside us untuk sangat soroti adalah penyebar cerita yang seharusnya hanya dikonsumsi oleh Laras sendiri tersebut. Hal ini bukan berarti membenarkan kelakuan Laras yaa guys. Ada baiknya remaja menyalurkan waktu luangnya untuk hal-hal yang positif.

3. Pentingnya edukasi bertahap sesuai dengan kebutuhan tiap tahapan umur anak

Edukasi sangat diperlukan untuk setiap tahapan umur anak. Cobalah untuk melepaskan kata-kata “jangan dibicarakan, itu tabu”. Kenapa? Karena jika tidak diberikan edukasi, pengetahuan, serta arahan, lalu bagaimana generasi-generasi selanjutnya akan belajar dan menjauhi hal negatif tersebut. Contohnya yang sering terjadi adalah bullying dan pelecehan yang dilakukan oleh remaja, bahkan pergaulan bebas. Remaja yang merupakan tahapan mencari jati diri mulai mencari-cari, bertanya-tanya tentang apa passionnya, hobinya, kegemarannya, lingkungan, dan membutuhkan edukasi agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif. Hal ini juga sering luput dari fokus masyarakat yang hanya membanding-bandingkan zaman tapi tidak ada edukasi secara mendalam dan tidak mencoba untuk mendalami remaja yang bersangkutan untuk membantu remaja tersebut menemukan jati dirinya.

4. Menghimbau kepada orang tua maupun lembaga pendidikan dan masyarakat untuk memberikan edukasi seks terutama terkait LGBT kepada remaja

LGBT (Lesbian, gay, Biseksual, Transgender) merupakan hal yang sangat sangat dilarang oleh agama dan negara, apalagi Negara Indonesia kita ini. Hal ini bertentangan dengan ketentuan Tuhan yang menciptakan manusia dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan serta menjadikannya berpasang-pasangan. Pada beberapa tahun terakhir ini penolakan LGBT sedang marak disuarakan. Film ini juga diharapkan untuk menjadi momen yang pas untuk mengangkat isu tersebut, akan tetapi poin penting dari isu tersebut memang kurang ditekankan dalam film dan terkesan hanya lewat semata yang tiba-tiba saja muncul di tengah cerita kemudian tiba-tiba saja menjadi penutup film tersebut. Dari film ini juga masih terlihat bahwa sutradara masih bimbang dalam penambahan isu LGBT ini karena kurangnya totalitas adegan yang dimunculkan, dimana adegan yang digunakan untuk menampakkan isu ini jika dilihat secara sepintas itu seperti adegan biasa, tidak ada yang spesial, mungkin yang benar-benar spesifik adalah ketika Dilla mengungkapkan perasaannya kepada Laras, selebihnya adalah adegan yang tidak spesifik menjurus pada LGBT. Hal ini mengakibatkan kesalahpahaman penonton karena kurang tersampaikannya maksud dan pesan yang hendak disampaikan. Meski begitu, perlu diperhatikan ya guys yaa, pelaku LGBT ini nggak perlu dijudge atau dikucilkan, justru harus dirangkul dan diarahkan dengan kasih sayang agar tidak salah jalan lagi, woke woke?

Pada intinya, sebenarnya banyak hal yang bisa kita ambil dari film Dear David, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Tapi yang perlu diingat buat sobat beside us, PERHATIKAN RATING FILM. Jangan coba-coba menonton film di atas usia kalian. Film Dear David ini bisa kalian tonton di Netflix <3

Bagikan:WhatsApp
Laisanti Ayu Febriani

Laisanti Ayu Febriani

Perempuan random yang menyukai puisi Eyang Sapardi Djoko Damono. Terkait hobi atau juara, mungkin sejauh ini hanya hobi mengganggumu dan juara di hatimu :)

Instagram Penulis

Komentar Pengunjung

0 Komentar
0/1000 karakter (Hanya teks biasa)

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait di Hiburan